zmedia

Neng-Ning-Nung (3): Guru, Jangan Menangis!

Makna Kata Neng, Ning, dan Nung

Dalam bahasa Jawa, terdapat tiga kata yang memiliki makna mendalam: Neng yang berarti keheningan batin atau meneng; Ning yang menggambarkan hati yang lurus dan bening, yaitu wening; serta Nung yang artinya terarah dan bertanggung jawab, atau dunung. Ketiga kata ini mencerminkan nilai-nilai yang penting dalam kehidupan seorang guru.

Profesi Guru dalam Sejarah

Menurut Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 1978 hingga 1983, hanya ada dua jenis pekerjaan di dunia ini, yaitu guru dan yang lainnya. Dalam pandangan ini, profesi apa pun pasti melalui dan memperoleh jasa dari guru. Arti sederhana dari profesi guru adalah bapak atau ibu yang berdiri di depan sejumlah murid, peserta didik, atau siswa, dengan pengecualian guru besar, doktor, atau magister yang mengajar mahasiswa.

Seorang guru adalah inspirator, sumber pengetahuan yang mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan karakter baik kepada para siswa. Ia juga menjadi teladan yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu, guru bukan hanya sekadar pengajar, tetapi juga pendidik yang siap dijadikan contoh.

Perkembangan Profesi Guru

Pada tahun 1950-an, profesi guru dihormati, ucapan dan gerakannya selalu disimak. Pak guru muda mudah mencari mertua, kata-katanya dianggap bernas, dan sikapnya sopan serta hormat. Pada masa itu, profesi guru dihargai dalam berbagai bentuk, termasuk kesejahteraan sebagai manifestasi pengakuan sosial, ekonomi, dan budaya.

Namun, seiring berkembangnya berbagai profesi, guru mulai terlempar ke kubangan. Guru tidak lagi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi bersama siswa, mereka menemukan pengetahuan melalui kemajuan teknologi informasi. Profesi guru kini menjadi pilihan terakhir, bahkan terlewat oleh berbagai profesi lain seperti dokter, polisi, tentara, insinyur, akuntan, dan manajer bisnis.

Peran Guru dalam Sosiologi Pendidikan

Mengutip Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, keluarga dan orang tua adalah pendidik pertama yang memberikan dasar-dasar moral, etika, dan agama. Guru dan sekolah adalah pendidik kedua yang mentransfer pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan intelektual secara terencana dan formal. Masyarakat atau lingkungan adalah pendidik ketiga yang memberikan pengalaman sosial, nilai-nilai kemasyarakatan, dan pendidikan nonformal.

Kerangka dasar sosiologi pendidikan Ki Hajar yang baku sering kali dilupakan, sehingga profesi guru tidak lebih dari profesi ART (Anggota Rumah Tangga). Di Indonesia, jumlah guru berstatus ANS (Aparatur Negeri Sipil) mencapai lebih dari 2 juta, sedangkan jumlah seluruh ANS sekitar 4 juta. Masalah anggaran menjadi salah satu faktor utama dalam kesulitan ini.

Kondisi Guru Saat Ini

Guru berstatus honorer sering diberi honor beberapa lembar ratusan per bulan atau setandan pisang, tanpa jaminan kepastian. Meskipun sudah lulus program sertifikasi, mereka masih menunggu untuk diangkat sebagai ASN. Mengangkat mereka sebagai pegawai tetap butuh banyak perhitungan, terutama dari segi anggaran dan prioritas.

Peran Guru dalam Pembangunan Generasi Masa Depan

Usia 5-17 tahun, masa remaja, adalah masa penuh gejolak biologis dan perkembangan kognitif. Menurut Jean Piaget, anak-anak pada masa ini mulai mampu berpikir abstrak, logis, dan hipotetis. Dengan mengutip tiga tokoh besar—Ki Hajar Dewantara, G. Stanley Hall, dan Jean Piaget—dapat disimpulkan bahwa guru dan sekolah memiliki peranan besar dalam membangun generasi masa depan dengan slogan Indonesia Emas 2045.

Tantangan dan Harapan

Banyak persoalan keluarga dan masyarakat dibawa ke ranah sekolah, sehingga guru harus ikut campur. Orangtua sering membawa masalah pendidikan ke ranah hukum, yang bisa membuat guru terlibat dalam masalah hukum. Rencana-rencana politik yang berkaitan dengan praksis pengajaran membutuhkan perencanaan matang, terutama ketersediaan guru dan kesiapan lembaga sekolah.

Meski pamor keguruan merosot, profesor guru tetaplah "profesi pertama baru yang lain". Bahkan, meskipun peran pengajaran dan pendidikan bisa digantikan oleh mesin dan kemajuan teknologi, guru tetap menjadi pelengkap. Jangan heran jika setiap kali ada protes perbaikan kesejahteraan, selalu diantisipasi dengan janji-janji dan kebijakan yang tidak terlaksana.

Wahai Bapak dan Ibu Guru, jangan menangis! Dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”, guru tetap dihargai. Dengan pemberian gelar pahlawan nasional, meski ada kontroversi, profesi guru tetap dihormati. Jangan menangis, karena guru adalah pendidik yang melahirkan semua profesi.

Posting Komentar untuk "Neng-Ning-Nung (3): Guru, Jangan Menangis!"