zmedia

Ini alasan Pertamina tetap jaga harga Pertamax meski harga minyak global naik turun

Alasan Pertamina Menahan Harga BBM Non Subsidi

PT Pertamina (Persero) telah mengungkap alasan di balik kebijakan menahan harga BBM non subsidi, yaitu Pertamax (RON 92), meskipun harga minyak global dan produk BBM internasional mengalami kenaikan tajam dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini, harga Pertamax tetap dipatok pada Rp12.300 per liter dan tidak mengalami penyesuaian sejak 1 April 2026.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi domestik. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah menetapkan skema subsidi energi berdasarkan kajian terhadap pola konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, subsidi lebih difokuskan pada Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP), yaitu Pertalite, yang menjadi bahan bakar dengan konsumsi terbesar di kalangan masyarakat.

Pengguna Pertamax dan Kalangan Menengah

Roberth menambahkan bahwa Pertamax masih digunakan oleh kalangan masyarakat menengah, berbeda dengan produk seperti Pertamax Turbo yang lebih ditujukan kepada segmen menengah atas. Oleh karena itu, kenaikan harga Pertamax dikhawatirkan dapat mempersempit akses masyarakat terhadap BBM dengan kualitas lebih baik dibanding Pertalite, sekaligus menekan daya beli kelompok konsumen menengah.

Ia juga mengakui bahwa jika Pertamax sepenuhnya mengikuti harga keekonomian saat ini, maka banderolnya akan jauh lebih tinggi dibanding harga yang berlaku sekarang. Contohnya, ketika harga Pertamax berada di level Rp12.300 per liter, harga Pertamax Turbo (RON 98) tercatat sekitar Rp13.100 per liter atau hanya terpaut tipis. Namun kini, harga Pertamax Turbo telah menyentuh sekitar Rp19.900 per liter.

“Maka bisa dikira-kira ya harga Pertamax berapa estimasi semestinya?” ujarnya.

Respons terhadap Isu Harga BBM

Penjelasan Roberth juga merespons isu di media sosial mengenai harga keekonomian Pertalite (RON 90) yang lebih tinggi dibandingkan harga jual Pertamax. Dalam unggahan salah satu warganet, tercantum harga asli Pertalite mencapai Rp16.088 per liter. Namun, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp6.088 per liter sehingga konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter di SPBU.

Angka tersebut memicu sorotan publik lantaran melampaui harga jual Pertamax non-subsidi yang saat ini dipatok Rp12.300 per liter untuk wilayah Jabodetabek. Situasi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, karena secara umum BBM dengan angka oktan lebih tinggi biasanya memiliki biaya produksi dan harga jual yang lebih mahal dibandingkan bahan bakar dengan RON lebih rendah.

Perbandingan Harga Pertalite dan Pertamax

Roberth menilai perbandingan antara harga Pertalite dan Pertamax seringkali tidak relevan karena keduanya berada dalam skema kebijakan yang berbeda. Pertalite merupakan BBM bersubsidi yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat luas. Sementara, Pertamax adalah BBM non subsidi dengan harga yang seharusnya mengikuti pergerakan pasar energi global.

Menurutnya, mayoritas konsumen gasoline nasional masih berada pada level konsumsi Pertalite. Bahkan apabila subsidi dialihkan ke Pertamax sekalipun, harga jual BBM tersebut diperkirakan tetap berada di atas harga Pertalite saat ini.

“Intinya membandingkan harga Pertalite dan Pertamax tidak apple to apple, apalagi dengan kondisi saat ini,” kata Roberth.

Posting Komentar untuk "Ini alasan Pertamina tetap jaga harga Pertamax meski harga minyak global naik turun"